Tag Archives: Sinetron
Tentang Sinetron
Tulisan sudah mencapai 200 kata dan hilang di telan angin karena mati lampu pagi tadi, padamlah ide sedang memuncak dan tangan yang sedang kreatif menyalurkan inspirasi dan motivasi menulis. Begitulah sayangnya kehidupan memang tidak selalu berjalan mulus…
Baiklah kembali ke topik, Sandi akui sandi adalah pecinta sinetron. Yah, Sandi laki-laki tulen dan masih perjaka suka dengan yang namanya sinetron…
Apa kata dunia? Memang kenapa kalau Sandi suka sinetron??
Perlu bukti kah kalau Sandi pecinta Sinetron???
Semuanya berawal dari Anjasmara yang membintangi sinetron Tersayang, hingga nama Anjasmara terpampang di label identitas MOS SMP Sandi dahulu, tapi Sandi masih sehat tentunya. Lalu dilajut dengan Kehormatan, Tersanjung, Hikmah, Bidadari dan banyak lagi sinetron yang di keluarkan oleh Mutlivision Plus yang merajai segala raja sinetron pada zaman itu, kalau sekarang sudah Sandi kurang update sih…
Dan terakhir yang masih hangat adalah sinetron Cinta Fitri dari session Fitri yang culun hingga Fitri yang gimana gitu udah tidak culun lagi. Sandi hapal hampir semua aktor baik dan buruk nya, ikut kesel ketika Firti “disakiti.” Yah, itu zaman gila-gila nya Sandi dengan sinetron Cinta Fitri…
Eit, tidak hanya sampai disana; sebagai manusia paripurna, Sandi juga suka menonton sinetron kolosal yang bertema persilatan. Dimulai dengan Si buta dari Gua hantu, Wiro Sableng Kapak Maut 212 (Sinto Gendeng), Merapi (Nenek Lampir), Nyi Roro Kidul dan apalah itu yang semacam demikian yang banyak berseliweran di layar kaca. Sampai bercita-cita yang aneh-aneh begitulah…
Dan apa dong? Yah ini bagian penting yang akan Sandi bagikan; kemarin malam bersama keluarga Sandi kembali menonton sinetron yang ada di sebuah televisi dalam negeri tentang tendangan apa begitu; judul disensor dan tidak bermaksud apapun. Hampir absen menonton sinetron selama mulai masuk kuliah ini membuat kegiatan menonton menjadi mengasikan. Terlebih ketika menonton nya dapat bersama dengan keluarga dan adik-adik ku sembari membedah rancangan penulisan buku yang akan Sandi terbitkan Juni mendatang. Dan di ruang kreatif itu munculah sebuah lelucon yang sangat menggelitik. Apa ini yang harus anak-anak pelajari dan amalkan dalam kehidupan yang nyata?
Jika berkaca pada perkataan Raditya Dika, Sandi baru sadar bahwa memang diakui kalau tayangan yang ditonton tadi tidak rasional (awkward kata penulis kambing jantan mah). Sejalan dengan itu Pak Aa-guru Sandi yang sudah seperti ayah saya sendiri berkata; “Manya, meni teu masuk akal pisan, nu jadi peran jahat meni jahat pisan teu tobat-tobat…
” (kurang lebih demikian ujarnya). Lalu mengapa? Yah, itu memang sinetron dan hanya sebuah cerita dan tidak harus juga diperdebatkan. Mungkin Sandi tidak menonton dari awal karena selalu ada tulisan yang menyatakan;
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf bila ada kesamaan nama, tokoh, sertting tempat dan lainnya…
Aihhhh, mau kemana? Sini sahabat, coba tengok lebih dekat dengan sinetron yang sahabat tonton. Apakah itu mendidik dalam sahabat dan keluarga sahabat demi kebaikan? Apakah tontonan yang selama ini sahabat dan keluarga sahabat tonton bermanfaat?? Apakah tontonan yang selama ini menghibur sahabat dalam waktu luang bersama keluarga itu menjadi kebaikan???
*Yah ini, hanya sebuah pertanyaan yang mengelisik dan harus Sandi dan sahabat pikirkan. Nanti kita sambung kembali, sekarang jam 1;17 saat nya sholat Tahajud dan mempersiapkan proposal penelitian. Mohon doa kan semoga semua berjalan sesuai rencana, semoga Allah memudahkan kita selalu…










